Makassar – Setiap Sabtu pagi, ketika sebagian besar mahasiswa masih terlelap dalam istirahat akhir pekan mereka, kampus Universitas Islam Makassar justru dipenuhi semangat berbeda. Mahasiswa baru Fakultas Pertanian UIM memulai hari dengan tangan bersentuhan langsung dengan tanah, menyiram tanaman, dan membersihkan lahan—sebuah tradisi yang mereka sebut “Sabtu Bertani”.

Program wajib Fakultas Pertanian ini menjadi ajang pembuktian bahwa menjadi sarjana pertanian bukan hanya soal teori di ruang kelas, tetapi juga pengalaman nyata di lapangan. Mahasiswa dari tiga program studi—Agroteknologi, Agribisnis, dan Kehutanan—bahu-membahu sejak pukul 07.00 hingga 10.00 WITA, mengubah lahan fakultas menjadi laboratorium hidup mereka.

Dari Teori ke Praktik: Belajar Langsung dari Alam

Di bawah bimbingan Fikram Fahrumansya, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian yang memandu kegiatan ini, para mahasiswa tidak hanya belajar cara menanam atau merawat tanaman. Mereka belajar tentang ketekunan, kerja keras, dan bagaimana menghargai setiap butir hasil bumi.

“Sabtu Bertani bukan sekadar membersihkan kebun. Ini adalah proses membentuk karakter seorang petani sejati yang tidak takut kotor, tidak mudah menyerah, dan memahami bahwa pertanian adalah tentang kesabaran dan dedikasi,” ujar salah satu peserta yang antusias mengikuti kegiatan ini.

Menyiapkan Masa Depan Pertanian Indonesia

Kegiatan rutin setiap Sabtu ini meliputi pembersihan lahan praktek, perawatan greenhouse, dan pemeliharaan kebun nursery yang menjadi pusat pembelajaran mahasiswa Fakultas Pertanian. Area-area ini bukan sekadar tempat praktek, tetapi menjadi saksi bisu transformasi mahasiswa dari “anak kota” menjadi calon ahli pertanian yang kompeten.

Dengan tangan yang mungkin awalnya lembut dan bersih, kini para mahasiswa baru ini mulai terbiasa memegang cangkul, menyiangi rumput, dan merasakan peluh mengucur di bawah terik matahari pagi Makassar. Inilah pembelajaran sesungguhnya—memahami pertanian dari akarnya, secara harfiah.

Lebih dari Sekadar Kegiatan Rutin

Program Sabtu Bertani telah menjadi identitas Fakultas Pertanian UIM. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00 pagi ini tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga membangun solidaritas dan kerjasama antar mahasiswa dari berbagai program studi. Mereka belajar bahwa di lahan pertanian, tidak ada perbedaan—semua adalah petani yang bekerja untuk tujuan yang sama.

Kebun dan lahan Fakultas Pertanian UIM perlahan berubah. Bukan hanya secara fisik yang semakin tertata rapi, tetapi juga menjadi simbol komitmen institusi dalam mencetak lulusan yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga terampil dan berjiwa petani sejati.

Menanam Hari Ini, Menuai Masa Depan

Setiap Sabtu, saat matahari mulai meninggi sekitar pukul 10.00 WITA, para mahasiswa mengakhiri sesi Sabtu Bertani mereka. Wajah-wajah lelah namun penuh kepuasan terpancar. Mereka pulang bukan hanya dengan baju yang kotor dan tubuh yang lelah, tetapi dengan pemahaman yang lebih dalam tentang apa arti menjadi bagian dari dunia pertanian.

Di era digital ini, ketika banyak generasi muda menjauh dari sektor pertanian, Fakultas Pertanian UIM justru menghadirkan pendekatan yang menyegarkan. Mereka tidak hanya mengajarkan cara bertani, tetapi menanamkan cinta dan kebanggaan terhadap profesi petani.

Sabtu Bertani bukan sekadar rutinitas mingguan. Ini adalah investasi masa depan—masa depan pertanian Indonesia yang akan dipimpin oleh generasi petani baru yang terdidik, terampil, dan penuh semangat. Dan itu semua dimulai setiap Sabtu pagi, di lahan hijau Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar.


“Tangan yang terbiasa memegang tanah, adalah tangan yang akan membentuk masa depan pertanian Indonesia.”

Makassar – Setiap Sabtu pagi, ketika sebagian besar mahasiswa masih terlelap dalam istirahat akhir pekan mereka, kampus Universitas Islam Makassar justru dipenuhi semangat berbeda. Mahasiswa baru Fakultas Pertanian UIM memulai hari dengan tangan bersentuhan langsung dengan tanah, menyiram tanaman, dan membersihkan lahan—sebuah tradisi yang mereka sebut “Sabtu Bertani”.

Program wajib Fakultas Pertanian ini menjadi ajang pembuktian bahwa menjadi sarjana pertanian bukan hanya soal teori di ruang kelas, tetapi juga pengalaman nyata di lapangan. Mahasiswa dari tiga program studi—Agroteknologi, Agribisnis, dan Kehutanan—bahu-membahu sejak pukul 07.00 hingga 10.00 WITA, mengubah lahan fakultas menjadi laboratorium hidup mereka.

Dari Teori ke Praktik: Belajar Langsung dari Alam

Di bawah bimbingan Fikram Fahrumansya, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian yang memandu kegiatan ini, para mahasiswa tidak hanya belajar cara menanam atau merawat tanaman. Mereka belajar tentang ketekunan, kerja keras, dan bagaimana menghargai setiap butir hasil bumi.

“Sabtu Bertani bukan sekadar membersihkan kebun. Ini adalah proses membentuk karakter seorang petani sejati yang tidak takut kotor, tidak mudah menyerah, dan memahami bahwa pertanian adalah tentang kesabaran dan dedikasi,” ujar salah satu peserta yang antusias mengikuti kegiatan ini.

Menyiapkan Masa Depan Pertanian Indonesia

Kegiatan rutin setiap Sabtu ini meliputi pembersihan lahan praktek, perawatan greenhouse, dan pemeliharaan kebun nursery yang menjadi pusat pembelajaran mahasiswa Fakultas Pertanian. Area-area ini bukan sekadar tempat praktek, tetapi menjadi saksi bisu transformasi mahasiswa dari “anak kota” menjadi calon ahli pertanian yang kompeten.

Dengan tangan yang mungkin awalnya lembut dan bersih, kini para mahasiswa baru ini mulai terbiasa memegang cangkul, menyiangi rumput, dan merasakan peluh mengucur di bawah terik matahari pagi Makassar. Inilah pembelajaran sesungguhnya—memahami pertanian dari akarnya, secara harfiah.

Lebih dari Sekadar Kegiatan Rutin

Program Sabtu Bertani telah menjadi identitas Fakultas Pertanian UIM. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00 pagi ini tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga membangun solidaritas dan kerjasama antar mahasiswa dari berbagai program studi. Mereka belajar bahwa di lahan pertanian, tidak ada perbedaan—semua adalah petani yang bekerja untuk tujuan yang sama.

Kebun dan lahan Fakultas Pertanian UIM perlahan berubah. Bukan hanya secara fisik yang semakin tertata rapi, tetapi juga menjadi simbol komitmen institusi dalam mencetak lulusan yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga terampil dan berjiwa petani sejati.

Menanam Hari Ini, Menuai Masa Depan

Setiap Sabtu, saat matahari mulai meninggi sekitar pukul 10.00 WITA, para mahasiswa mengakhiri sesi Sabtu Bertani mereka. Wajah-wajah lelah namun penuh kepuasan terpancar. Mereka pulang bukan hanya dengan baju yang kotor dan tubuh yang lelah, tetapi dengan pemahaman yang lebih dalam tentang apa arti menjadi bagian dari dunia pertanian.

Di era digital ini, ketika banyak generasi muda menjauh dari sektor pertanian, Fakultas Pertanian UIM justru menghadirkan pendekatan yang menyegarkan. Mereka tidak hanya mengajarkan cara bertani, tetapi menanamkan cinta dan kebanggaan terhadap profesi petani.

Sabtu Bertani bukan sekadar rutinitas mingguan. Ini adalah investasi masa depan—masa depan pertanian Indonesia yang akan dipimpin oleh generasi petani baru yang terdidik, terampil, dan penuh semangat. Dan itu semua dimulai setiap Sabtu pagi, di lahan hijau Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar.


“Tangan yang terbiasa memegang tanah, adalah tangan yang akan membentuk masa depan pertanian Indonesia.”