Sentuhan Teknologi Sederhana: UMK DnA Barokah Farm Menggenjot Produksi Telur dan Daging Puyuh
Harga pakan yang tak henti merangkak naik, ditambah ketatnya persaingan di pasar unggas, membuat banyak usaha mikro kecil (UMK) peternakan puyuh kesulitan sekadar bertahan, apalagi tumbuh. Tapi cerita DnA Barokah Farm berjalan berbeda. Hanya dalam waktu kurang dari dua bulan, usaha ini mencatat lonjakan produksi telur puyuh sekaligus permintaan daging puyuh yang cukup mencolok. Kunci di balik pencapaian itu adalah pendampingan intensif dari Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali, yang beranggotakan Syamsul Rahman selaku ketua tim, bersama Awaluddin Yunus dan St. Fauziah Noer sebagai anggota.


Gambar 1. Kandang setelah penambahan pullet dan pemanenan telur puyuh
Kemasan Berlabel, Kunci Membangun Kepercayaan Pembeli Daging Puyuh Beku
Selain membenahi sisi hulu produksi telur, tim PKM juga menggarap persoalan di sisi hilir: pemasaran daging puyuh beku. Selama ini, tidak sedikit produk UMK yang sebenarnya bermutu baik justru kurang dilirik konsumen karena tampil tanpa identitas jelas di rak penjualan. Untuk mengatasi hal ini, tim memperkenalkan penggunaan merek dan label pada kemasan daging puyuh beku milik DnA Barokah Farm. Langkah yang terlihat sepele ini ternyata berdampak besar terhadap minat beli konsumen. Sebelum ada label, penjualan daging puyuh rata-rata hanya mencapai 6 kilogram per hari; setelah kemasan berlabel diterapkan, angka itu naik menjadi 10 kilogram per hari, atau meningkat sekitar 67 persen. Hasil ini sejalan dengan logika pemasaran modern: kemasan dan label bukan sekadar pembungkus, melainkan media komunikasi yang menyampaikan jaminan mutu, keamanan pangan, dan identitas produk kepada calon pembeli. Khusus untuk produk beku seperti daging puyuh, label yang jelas juga memberi rasa aman soal asal-usul dan kesegaran produk – faktor yang sangat menentukan keputusan konsumen saat memilih di rak pendingin.


Gambar 2. Penyerahan kemasan plastik dan penyerahan daging beku kepada pelanggan
Ketika Riset Kampus Menyentuh Dapur Rakyat
Kisah DnA Barokah Farm menunjukkan bahwa program pengabdian masyarakat yang dirancang tepat sasaran bisa memberi dampak langsung dan terukur bagi pelaku usaha mikro. Dua intervensi yang diterapkan – penambahan populasi ternak secara terencana dan inovasi pelabelan kemasan – sama-sama membuktikan bahwa kenaikan produktivitas UMK tidak selalu menuntut modal besar atau teknologi yang rumit. Yang lebih dibutuhkan justru pendampingan yang tepat sasaran, berpijak pada pengetahuan ilmiah, sekaligus peka terhadap kebutuhan nyata di lapangan. Program semacam ini juga menegaskan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti sebagai pusat pendidikan dan riset, tetapi juga sebagai mitra pembangunan ekonomi masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.
Ke depan, keberlanjutan pendampingan seperti ini menjadi kunci. Kenaikan produksi yang sudah dicapai perlu diimbangi dengan penguatan aspek lain, seperti manajemen keuangan usaha, perluasan jaringan distribusi, hingga sertifikasi produk – agar pertumbuhan DnA Barokah Farm tidak berhenti di satu titik, melainkan terus berlanjut seiring waktu.
